Jumat, 15 Juni 2012
in early
Ini yg bikin gue ingin setiap hari menuntut hak gue! Gue bisa tahan kok dgn apapun kta org! Terserahlah gw mau dianggap apa, benalu? Pasrah? Bego? Peduli amat! Like there's no life without it? Take care of your word.
hidup adalah sebuah proses belajar
saat kecil apakah kita langsung belajar? tentu saja . Kita belajar menyesuaikan diri dengan dunia. Perlahan membuka mata, menikmati hangatnya dunia luar rahim ibu kita. Perlahan kita belajar melihat dia, ibu yg melahirkan kita. Mengenali wajahnya, mengingat bau tubuhnya, dan merasakan kehangatan kasihnya. Saat terbiasa, mulailah kita untuk belajar menyesuaikan diri dgn tubuh kita. Belajar berjalan, sampai kita jatuh berjuta kali. Belajar berbicara walau selalu terbata. Belajar mengenali mereka yg menyayangi kita. Belajar membaca, menghitung, mewarnai, menggambar, berimajinasi. Dan belajar bermimpi. Sejak kecil kita telah diajari untuk gantung kan mimpi mu setinggi langit. Apakah saat itu seorang anak kecil akan bertanya bagaimana bila jatuh? Pasti rasanya akan sakit. Tapi, tentu saja tidak. Kita sbg anak kecil tentu akan berfikir apa yang akan aku impikan nanti? Malah kenyataan nya anak kecil pasti akan punya banyak mimpi.
Selasa, 12 Juni 2012
Mencintaimu karena Allah SWT
Mencintaimu karena Allah SWT
“Sebaik-baik amal
adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah”
Hadist yang di
riwayatkan oleh Abu daud dari Abu Dzar inilah yang selalu ada di fikiran ku.
Selalu kucari apa maksud dari hadits ini, aku bertanya pada Guru dan teman. Aku
pun menanyakan apa pendapat mereka. Dan apa yang ku dapat adalah
“Jika engkau
mencintai seseorang hendaklah karena orang itu menaati Allah dan menjadi
kekasih Allah. Ketika orang itu bermaksiat terhadap-Nya maka anda harus
membencinya karena ia telah bermaksiat terhadap Allah dan menjadi orang yang di
benci Allah.” Ini adalah jawaban dari seseorang yang kutanyakan.
Sebagai manusia
sungguh sangat manusiawi jika ada perasaan suka pada lawan jenis. Begitupun
aku.
Dia adalah
laki-laki yang begitu taat dalam pandangan ku, ku kagumi dia. Entah apa ia tahu
atau tidak. Sungguh lelaki saleh yang pantas diidamkan. Namanya Rayhan.
Mungkin tidak
hanya aku wanita yang mengaguminya diam-diam. Tapi ketakutan hatiku untuk
menunjukkan padanya selalu membatasi ku. Tapi aku sungguh mencintai nya karena
Allah.
Kami terbilang
dekat, kami sering bertukar pendapat biarpun hanya lewat pesan singkat dan
pertemuan yang hampir terbilang jarang. Dan pemikirannya pun berhasil membuat
kekaguman ku semakin bertumpuk.
Sebagai wanita
muslim tentu aku menginginkan seorang imam yang saleh dan bisa membimbing ku.
Aku tak tahu apa
kah dia merasakan apa yang kurasakan, tapi bagi ku ini adalah hubungan spesial.
Biarpun kami pergi berdua tapi dia selalu memperlakukan ku sopan dan dia sangat
bersahabat.
“YaAllah apakah
aku salah atas rasa suka ini? Kenapa aku merasakan perasaan yang begitu dalam
tehadap salah satu hamba mu itu, ampuni aku yaAllah atas perasaan hati ini
tatkala rasa ini jadi begitu besar daripada terhadap mu” selalu ucapku dalam
doa.
**
Tapi ternyata apa
yang aku rasa adalah kekeliruan, kau tahu ternyata dia sama saja dengan lelaki
lainnya. Atau itu hanya pendapatku yang sedang dalam kegundahan ini?
Hati ku sangat
sakit saat aku melihatnya berpegang tangan dan bercanda dengan Sheria. Entah
ada hubungan apa antara mereka, mereka serig terlihat berduaan jalan bersama,
perpustakaan, restoran, atau kemanapun.
Aku berfikir dia
telah menjadi milik nya, dan kurasa mereka sudah pacaran. Dan tak pantas
rasanya aku mengharapkan dia yang telah menjadi kekasih orang lain. Aku mencoba
membuang perasaan ini, tapi ternyata malah tumbuh semakin besar. Aku jadi lebih
sering memikirkannya. Menangisi kehadirannya yang hilang untuk ku. Sempat ku
berfikir “yaAllah kenapa harus dia yang selalu ada di fikiranku”
Karena semua
sikapnya terhadap ku tak pernah berubah membuat ku semakin sakit. Apakah selama
ini sikap nya kepada ku hanya sekedar untuk kesopanan saja?
Saat itu betapa
terkejutnya aku melihat dia berciuman dengan Sheira di belakang kampus.
“brrrrrraaak” suara
buku-buku ku yang jatuh saat aku menabrak meja rusak di belakang kampus. Saat
ku menoleh tak menyangka aku melihat pemandangan yang tidak pantas itu.
“Rayhan!” sontak
aku membentak nya.
Aku tak tahu apa
yang ada di fikiran ku saat itu. Aku begitu marah dan seakan ingin menamparnya.
Entah kenapa dengan begitu bodohnya aku pergi dari tempat itu tanpa membawa
semua buku-buku ku, sambil menahan amarah dan tangis ku.
Aku pergi dan tak
menengok sedikitpun ke belakang, tujuan ku saat itu adalah tempat sepi untuk ku
meluapkan emosi ini. Akhirnya aku berhenti di bangku taman tak jauh dari
fakultas ku. Aku menitihkan air mata ku, aku menahannya agar aku tak
tersedu-sedu. Tapi begitu sulit aku menahannya. Aku menggigit bibirku sampai
tak terasa berdarah.
Sesaat tersadar
aku berfikir, untuk apa aku meratapi yang tak seharusnya.
“yaAllah maafkan
lah hambamu yang hina ini, meratapi apa yang tak seharusnya. Bodohnya hamba
yang mencintai dia melebihi Mu, sungguh hina nya aku”
Keesokan harinya
Rayhan datang padaku, dan bertanya.
“kemarin kau
melihatnya?”
“ya” jawabku
singkat
“kenapa kau
menjatuhkan buku mu?” Tanya nya sambil mengembalikan buku ku.
Aku terdiam
sejenak, dan langsung mengambil buku ku dan pergi.
Sejak hari itu,
aku tak pernah mau bertemu dengan nya. Aku menghindari nya. Sampai acara
kelulusan atau wisuda pun aku tak pernah melihatnya. Entah apa ia menyadari nya
atau tidak.
***
Dua tahun setelah
wisuda, setelah sekian lama akhirnya aku bertemu dengan nya.
Aku mengabdikan
diri ku pada taman kanak-kanak milik ibuku. Tiba-tiba dia datang dan memberikan
ku undangan. Untuk sesaat dia tidak menyadari kalau itu aku. Aku diam dan hanya
menunduk. Aku pura-pura tidak mengenalnya.
Dia memberikan TK
ku undangan untuk menghadiri salah satu acara perusahaannya. Pembukaan taman
hiburan baru milik perusahaan nya.
Esok hari nya aku
dan anak-anak TK pergi menghadiri acara tersebut. Anak-anak sangat senang
mereka berlarian kesana kemari di tempat seluas itu, tapi ada yang aneh bagi
ku.
“Kenapa taman
hiburan sebesar itu hanya ada kami sampai tengah hari begini?” fikir ku dalam
hati.
Tak berapa lama saat
aku kembali dari toilet, tiba-tiba aku di sendirian disana dan semua orang
tidak ada!
Aku terkejut
melihat dia berdiri di hadapan ku dan memberikan buku harianku. Aku tak pernah
ingat kalau buku itu hilang, saksi bisu betapa saat itu rasa ku sangat besar
terhadapnya. Dan ternyata dia mengenaliku dari kemarin.
Wajah ku memerah,
malu aku saat ingat apa yang aku tulis di buku harian itu. Aku terdiam.
“maafkan aku” kata
nya
“maaf untuk apa?”
jawabku
“atas sikap ku
waktu itu. Aku tidak menyadari….” Dia terdiam menghela nafas.
Suasana pun hening
dan aku pun tetap diam memerah
“em kalau kau lah
wanita yang selalu ada di samping ku. Harusnya aku menyadari nya dari dulu.
Aku…ingin..”
“kau tak perlu
minta maaf pada ku, bukan aku yang kau zolimi. Tapi dirimu sendiri. Aku bukan
siapa-siapa dan bukan urusan ku tentang hdup mu. Tapi aku sebagai sesama muslim
hanya ingin mengingatkan mu, kalau perbuatan mu dulu itu adalah mendekati zina.
Maaf aku mau mencari murid ku” sanggah ku langsung pergi.
“tunggu” dia
menghentikan ku sambil menarik tanganku.
“astaghfirullah,
lepas kan
tanganku kita bukan muhrim!” bentak aku seraya memberontak
“aku ingin menjadi
muhrim mu” ucapnya tegas.
Aku menatapnya
dalam dan berhenti berontak, aku hanya coba meyakinkan apa yang dia ucapkan
dalam otakku. Perlahan dia melepaskan genggamannya.
“maaf aku tak
bisa” ucap ku lirih
“tapi kenapa?”
“karena aku mencintai
mu karena Allah, dan kau telah melakukan kesalahan yg mengharuskan ku membenci
mu karena Nya”
“berarti kau tak
memaafkan ku?”
“aku sudah
memaafkan mu, tapi hati ku tidak. Kau tak bisa seenaknya datang dan pergi
seperti ini. Kita tak bertemu beberapa tahun dan kau tiba-tiba melamarku? Siapa
kau sekarang dan siapa aku sekarang apakah kau tahu? Pernikahan adalah suci”
jelas ku
“bisa kah kau
memberikan ku waktu agar kau bisa mencintai ku?” ucapnya memohon
“aku akan
mencintai mu karena Allah SWT” jawabku
“teman teman ku
mana hiks hiks” tiba-tiba ada suara anak yang merengek dengan keras.
“ Amanda!” seru
ku, tangisan nya menghentikan obrolan kami
“kamu dari mana?
Kok gak ikut sama yang lain nonton pertunjukkan di dalam?” sapa Rayhan
menenangkannya, ia menghapus air mata Amanda dan menggendongnya.
Ternyata sikap
lembutnya tak pernah berubah. Dan aku rasa benih yang sudah kucabut sampai akar
ini akan muncul lagi, dan mungkin akan tumbuh dengan cepat.
****
Sejak hari itu dia
selalu datang ke TK ku dan bermain bersama anak-anak. Membelikan mereka mainan
baru, membantuku mengajar dan bahkan bersedia kotor-kotoran untuk pelajaran
kesenian. Dia menawarkan diri untuk menjadi guru kesenian di TK. Aku hanya
mengiyakan keinginannya itu.
Aku rasa hati ini
sudah terbiasa kembali dengan nya. Aku mulai mengaguminya lagi.
Tak terasa sudah
sebulan kebiasaan ini berjalan, kami makin sering tertawa dan menghabiskan
waktu bersama.
Sampai salah satu
orang tua murid ada yang mengatakan pada kami,
“loh kok Bu Kiran
nikah gak ngundang-ngundang sih”
“iya nih, undang
kita dong bu” sahut ibu yang lain
“ah eh kita bukan
pasangan suami istri kok, Cuma teman” bantah ku
“Cuma teman kok
serasi banget sih, kompak lagi” canda ibu-ibu itu
Muka ku memerah
padam, dan tiba-tiba kata kata itu terlontar dari mulutnya
“iya bu, kita
belum menikah kok. Kita baru mau nikah dua minggu lagi rencananya” kata-kata
Rayhan membuat ku tercengang. Dan sifat spontan ku pun keluar.
“dua minggu? Kau
saja belum melamar ku! ups” ucap ku spontan
“maka aku akan
melamar mu disini, sekarang. mau kah kau menjadi kharim ku Annisa Kiran
Az-Zahra?
“a a ku….” Aku
terbata dan terkejut!
“terima!, terima!,
terima!” sorak ibu-ibu dan anak-anak muridku di luar kelas
“iya aku bersedia”
jawabku tanpa pikir panjang lagi dengan senyum bahagia terlukis indah di
wajahku.
Kami pun menikah,
dan membangun keluarga yang sakinah mawadah warohmah.
Sungguh cinta itu
indah jika karena Allah. Jangan pernah landaskan cinta mu karena nafsu, dan
jangan pernah mencintai nya lebih dari engkau mencintai Sang Khalik. Dialah
Allah Swt yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. J
Langganan:
Komentar (Atom)